Jumat, 22 Februari 2019

Kenangan SMA PGRI Kalitidu


Salam jumpa namaku sarpan, aku dilahirkan di Dusun Ngrapah, Desa Sengon Kabupaten Bojonegoro. Tanggal 10-6-1960, jadi usiaku sekarang sudah 59 tahun, aku sudah pensiun dari pegawai  pemerintahan. Aku ingin berceritera  masa laluku, aku orang desa yang tidak mampu tapi aku ingin memndapat pendidikan yang layak sebagaimana masyarakat pada umumnya. Cerita ini agak panjang, pembaca dapat mengambil sisi positifnya, sedangkan sisi negatifnya diabaikan saja, semoga  lika-liku kehidupan orang desa  dapat diambil manfaatnya.
Aku akan mulai cerita ketika aku mau memasuki bangku SMA PGRI Kalitidu, sebelumnya aku belajar di SMP PGRI Ngambon  tamat tahun 1980 jadi aku asli orang deso. Setelah tamat SMP aku melanjutkan ke  SMA PGRI kalitidu. SMA PGRI Kalitidu  adalah sekolah lanjutan atas yang paling dekat dengan kampung halamanku, walaupun jaraknya dari rumah ke SMA  sekitar 40 km,  tetapi  itulah sekolah lanjutan yang paling dekat dengan kampungku. Pada saat pendaftaran pertama aku datang di Kalitidu, aneh, lucu tapi nyata, karena aku harus bertanya berkali-kali baru ketemu di tempat pendaftaran, herannya lagi tempat pendaftarannya bukan di kantor tapi dirumah penduduk yang gangnya sangat sempit. Kemudian aku nekat masuk ke gang kecil rumahnya bapak Sa’i dan aku   bisa ketemu tempat pendaftarannya dan  bersykurnya aku diterima dengan  nomor urut 7 dari calon siswa yang mendaftar, setelah Suroto dari  Malo. Maklum sekolah swasta baru buka dan tempatnyapun  di Kalitidu pinggiran kota Bojonegoro.
Dua minggu setelah pendaftaran aku harus mulai sekolah, berdasarkan pengarahan bapak Kepala Sekolah,  bahwa kegiatan  belajar mengajar dimulai  hari senin depan  tanggal 15 Juni 1980  jam 1.00 siang dan pulangnya jam 5.30 sore. Mengapa masuk sekolah sore alasanya kalau pagi gedungnya di pakai SDN I Kalitidu, dan staf pengajarnya semua PNS beliau paginya mengajar di sekolah masing-masing jadi SMA PGRI masuk siang. Sebelum masuk sekolah pikiranku agak sedih karena rumahku sangat jauh, aku  membutuhkan waktu  tiga jam perjalanan dengan sepeda pancal untuk sampai kesekolah, berangkatnya tidak jadi masalah aku jam 10 pagi sudah bisa berangkat. Tetapi yang aku pikirkan pulangnya, kalau jam 5.30 dari sekolah berarti ditambah 3 jam perjalanan sampai di rumah jam 8.30 malam. Sedangkan di jalan sudah sangat sepi, apa lagi waktu itu belum ada penerangan jalan umum atau PJU. Tetapi karena semangatku besar aku tegar untuk menjalaninya, pikir aku bagaimana nanti sajalah, aku ingat nasehat ayahku jangan takut bayangan, hidup ini harus dijalani dengan iklas bukan untuk dibayangkan nanti malah takut. Kalau nekat nanti akan dapat brekat ( berhasil), tapi kalau kamu jereh atau penakut akan muleh artinya pulang dengan tangan hampa, itulah petuah ayahku yang sejak 1985 telah meninggalkan aku untuk selama-lamanya.
Bulan pertama aku sekolah merupakan pekerjaan yang berat, bagaimana tidak! setiap jam 10 pagi aku harus bersiap-siap berangkat sekolah dan jam 1 siang baru sampai di sekolah dan  belajar selama 4.30 jam,  kemudian aku pulang sampai rumah  jam 8.30 malam,  Setiap hari senin sampai sabtu. Akibatnya aku mengikuti pelajaran agak kurang focus karena  faktor badan terlalu capai.  Alhamdulillah setelah minggu kedua rasa capai sudah mulai berkurang, badanku  sudah mulai beradaptasi.
Dengan tidak terasa hari berganti hari menjadi minggu, kemudian bergerak dari minggu ke minggu akhirnya menjadi bulan. Sudah satu bulan perjuangan aku lewati, ini pekerjaan berat bagi anak seusiaku apalagi, aku seorang diri tanpa ada kawan satupun dari kampung tempat aku tinggal. Terasa  kesepian sepanjang jalan tidak ada teman berbicara, sehingga penjalanan menjadi jauh dan melelahkan. Diam-diam ayahku memperhatikan  aku, sehingga beliau menawarkan aku bertempat tinggal di Malo rumak pak de, rumah masnya ayahku. Tawaran ayahku aku sambut dengan senanghati dan aku langsung setuju.
Bulan kedua aku sudah mulai tinggal di Malo, lumayan lebih dekat dibandingkan dari kampong saya, Malo dengan sekolahan jaraknya sekitar 10 km, jadi cukup 30 menit perjalanan sudah sampai ke sekolah. Apalagi dari Malo banyak teman, ada Suroto, Ada Sulastri, Fatimah, Wiwin dan masih banyak lagi jadi kita senang dan semangat. Walaupun sebenarnya dari Malo beresiko karena melewati bengawan solo, yang menakutkan, bagaimana tidak menakutkan jaman itu belum ada jembatan antara Kalitidu dan Malo,  yang ada satu-satunya kita naik tembo, prahu kecil dari kayu, bagi saya sangat mengerikan dan menakutkan, tapi apa boleh buat tidak ada pilihan lain kecuali naik tembo. Apa lagi jika musim hujan dan pasti banjir besar, jantung ini selalu berdebar, apalagi saya tidak bisa berenang bagaimana jika tembo yang saya naik kena ombak lalu jatuh di bengawan aku bisa jadi santapan buaya disana hehehe. Karena itu juga bagian dari sebuah perjuangan maka  sudah  aku dijalani saja, apalagi aku  ingat nasehat ayahku jika kamu nekat akan dapat brekat, jika kamu penakut akan gagal. Untungnya para bapak guru dan ibu guru sangat baik dan bijaksanan, sehingga semua pelajaran  menyenangkan.
Pelajaran di bangku SMA tidak jauh berbeda saat di SMP dulu, pelajaran agama, bahasa indonesia, bahasa inggris, sejarah, PMP, ilmu sosial dan yang paling tidak saya senangi adalah pelajaran matematika, apa lagi gurunya galak.Tapi saya beruntung banyak punya teman sehingga jika ada PR matematika dapat kita kerjakan kelompok sehingga pelajaran yang sesulit apapun bisa kita selesaikan dengan baik, aku mempunyai kelompok belajar yang kompak saling bekerjasama dan membantu satu dengan yang lain. Maka itulah indah dan enaknya kita punya banyak teman, bisa saling membantu, melengkapi kekurangan kita. Namun selama enam bulan aku di Malo ikut pak de ku, merasa tidak enak, sungkan dan tidak nyaman, Pak De saudaraku sedangkan istrinya  saudara bawaan, sehingga aku jadi malu kalau lama-lama ikut beliau. Maka aku harus segera pindah dari Malo, dari rumah pak De ku.
Setelah semesteran aku pindah ke Kalitidu, ikut pak H,Sapran, awalnya aku tidak kenal dengan beliau, aku mulai kenal beliau pada hari jumat, pada waktu itu aku solat jumat di belakangnya, setelah jumat usai aku memberanikan diri untuk kos di rumahnya. Dengan senanghati permohonan saya dikabulkan, tidak apa kalau kamu mau tinggal di rumahku nanti aku akan sampaikan kepada kelurga tutur bapak H.Sapran. Karena  aku  aku diterima tinggal disana minggunya, aku pindahan dari Malo pindah ke Kalitidu.Beliau adalah usaha pemotongan hewan kambing, keluarga merasa senang aku tinggal dirumahnya , kerana aku selalu membantu pekerjaan rumahnya , mulai memotong, membersihkan kotorannya kambing sampai mengantarkan ke pasar. Dengan aku tinggal di Kalitidu jarak sekolah dengan tempat tinggalku sangat dekat, bahkan bisa berjalan kaki untuk pergi ke sekolah. Dan yang lebih penting lagi aku dapat  belajar lebih maksimal dan konsentrasi. Dengan berjalannya waktu dari hari kehari  nilai pelajaranku makin bagus dan maksimal. Apalagi semester ini adalah untuk persiapan kenaikan kelas aku harus lebih giat lagi belajarnya, sehingga bisa naik kelas.
Dengan tidak terasa aku sudah enam bulan tinggal di rumah Kalitidu, aku semakin banyak teman, apa lagi rumahnya dekat masjid jami’ sehingga membuat aku tambah krasan. Ujian kenaikan kelas telah tiba, aku dapat mengerjakan soal-soal ujian dengan mudah sehingga aku dapat nilai bagus dan naik kelas dua. Alangkah senangnya hati ini aku sudah naik kelas dua sekarang. Rasa senang juga dirasakan oleh ayah dan ibuku di kampong, beliau berdua senang ketika aku pulang dan aku kabari aku naik kelas. Kedua orang tuaku adalah orang yang paling sayang dan bijaksana yang aku temua di dunia ini, orangnya sayang , sering nasehat dan perhatian. Ketika Kenaikan kelas dan pembagian jurusan, karena muritnya sedikit sehingga semua dimasukkan jurusan IPS. Kenapa tidak  ada jurusan IPA? karena sekolah baru, muridnya saja hanya 35 anak, ya tidak mungkin kalau di bagi dua jurusan, lagi pula belum punya sarana laboratorium segala. Pikir saya walaupun ada jurusan IPA pun aku bisa dipastikan jatuh ke IPS lha matematikaku jeblok hehehe. Setelah enam bulan aku bertempat tinggal di H.Sapran, rasanya aku tidak krasan lagi, sebenarnya enak keluarganya ramah, tapi aku juga menjaga harga diri, apa kata orang, bisa-bisa akau diberi stempel pembantu, maka aku ingin sekolah sambil bekerja, apalagi ayahku saat itu sakit-sakitan karena faktor usia dan membutuhkn biaya.
Pada suatu sore ada orang yang menawari aku untuk bekerja di bank kosipa kantornya tidak jauh dari sekolahanku. Apa lagi disana ada teman yang sudah bekerja sambil sekolah SMP PGRI jadi pas ada temannya, dia namanya Nurhadi. Kemudian aku pulang memberitahukan ke ayahku, bahwa aku akan bekerja, di kosipa tetapi ada uang jaminan sebesar Rp.25.000,- ayahku setuju, dan beliau menjual sapi waktu itu laku Rp.50.000.Jadi mulai kelas dua saya mulai masuk bekerja di kosipa, pagi bekerja mencari nasabah dan mengambil angsuran nasabah lainnya sedangkan siangnya sekolah. Bekerja keluar pasar-masuk pasar yang lain, keluar kampung dan masuk ke kampung lainnya tapi menyenangkan menambah pengalaman. Berngkat jam 7 pagi pulang jam 12.00 kemudian jam satu berangkat sekolah. Pesan ayahku walaupun kerja sekolah tetap dinomor satukan. Alhamdulillah walaupun pagi berkeja siang tetap sekolah. Dan mulai waktu itu aku sudah tidak merepotkan lagi orang tua untuk membiayai sekolah, bahkan aku setiap bulan bisa membelikan obat ayahku yang waktu itu mulai sakit-sakitan.
Bekerja sambil sekolah memang menyenangkan, karena kita sekolah memegang uang, sementara teman kita tidak punya uang, jika tidak diberi oleh orangtuanya. Beda dengan kita yang sudah bekerja, tapi bekerja juga ada suka dan dukanya, apa lagi bekerja di kosipa, yang bekerjanya mencari nasabah dilapangan capai memang pagi kerja siang sekolah tapi itulah pilihan hidupku. Aku harus pandai berbicara dengan calon nasabah di waktu meminjamkan uang, nasabah di survey dulu kekuatannya mengasur uang setiap harinya. Karena biasanya yang terjadi penyakit klasik di perbankkan, mudah hutang sulit membayar, itu tidak boleh terjadi pada diri saya. Karena jika aku berbuat salah aku pasti dimarahi bahkan dipotong gaji atas kesalahan keuangan. Ada saat sedih da nada waktu senang ketika waktu akhir bulan para karyawan merasa senang, karena diakhir bulan selalu makan-makan yang mewah ukuran waktu itu, lauk ayam, buah dan minum sprit, jadi istimewa dan beda dengan hari biasanya. Bahasanya tutup buku disaat itu, dicek semua pengeluaran dan masukan dari semua mantrinya, dan kemudian besuknya kita mendapat gajian, senang rasanya, hilang rasa capai satu bulan.
Pada saat itulah para mantra bank di cek oleh kepala mantrinya, dilihat antara promes dan buku angsuran yang ada di kantor. Nah disitu akan kelihatan kekurangan kita dan juga kelebihan. Bisa melihat mantri yang pandai dan teliti dan sebaliknya yang curang dan kurang teliti. Jika promes lebih besar dari buku jurnal berarti promes dibuang, jika promes lebih sedikit berarti uang dari nasabah pernah dipakai atau mereka memang salah menyobek promes saksinya mantra harus membayar promes yang hilang hari itu juga. Jika mantri yang teliti antara promes dan catatan pasti sama dan itu yang benar. Setelah penutupan buku besuk harinya sudah cair atau sudah gajian. Senang rasanya ketika habis gajian dan sedih ketika masuk kelas ketinggalan, pasti disoraki teman. Adanya yang menghina ada yang teriak ada yang mengucapkan kalimat yang tidak mengenakkan. Tapi itulah resiko kita sekolah sambil bekerja.
Ketika menagih ke nasabah yang ada masalah atau banyak nasabah yang meminjam uang kita lambat untuk pulang ke kantor, apa lagi resortnya jauh dari kantor. Saya pernah mendapat resort Cengungklung. Cengungklung itu dari Kalitidu sekitar 20 KM, dengan bersepeda pancal lumayan jauh belum  masuk-masuknya kampong jadi sangat jauh. Kadang kalau sudah begitu saya di lapangan sudah tidak konsentrasi lagi, karena pikiran saya sudah di sekolah, sudah bersama dengan teman-teman padahal saya masih di lapangan. Sebenarnya sangat malu jika telat masuk ke ruang kelas tapi apa boleh buat. Bekerja penting, sekolah lebih penting. Ya kalau ketinggalan masuk kelas sekali-kali tapi yang saya alami hampir setiap hari saya telat masuk kelas. Lebih seru lagi saat aku sudah kelas tiga hampir mengukuti ujian akhir nasional (UAN). Dan yang lebih mendebarkan lagi aku sekolah di swasta tetapi ujiannya ikut SMA 1 Bojonegoro. Sehingga bisa dipastikan semua murid gelisah dan kuatir jika tidak lulus. Walaupun pihak guru SMA PGRI Kalitidu sudah berjuang keras, berbagai latihan soal dilakukan (try out).
Perjuangan berat saat menjelang UAN, terutama mata pelajaran yang sulit contoh matematika, akutansi dan bahsa inggris yang cukup sulit soal-soalnya. Tiada hari semua guru sibuk memberikan latihan, memberikan strategi dalam mengerjakan tugas. Karena ada soal yang memilih dan esai. Apalagi soal hitung-hitungan, para siswa menumpuh cara dengan caranya sendiri-sendiri baik belajar diluar kelas maupun dalam kelas. Pokoknya semua ingin lulus dengan cara apaupun. Jika tidak lulus kita pasti malu, malu sesama teman, malu sama keluarga. Maka saya bersama temanku nunuk pergi ke pak Yai yang terkenal di daerah celangap, bukan ke dukun, bukan musrik tapi sekedar minta doanya, walaupun disana dibawai-garam untuk syararat mengikuti ujian di SMA Bojonegoro.
Usaha apapun bakal ditempuh asalkan halal  dan tidak melanggar aturan, memang aneh tapi nyata, itulah saat seseorang galau, bingung, kuatir sehingga terkadang yang tidak rasionalpun dilakukan. Coba bayangkan di saat ramai aku harus membuang garam di pintu pagar masuk gedung dimana aku akan mengikuti ujian akhir nasional  atau UAN yang waktu itu kami dari SMA PGRI Kalaitidu di tempatkan di gedung SMA Muhammaddiyah Bojonegoro jalan Setia Budi. Nekad dan memberanikan sangat dibutuhkan saat sedang kepepet, itulah yang aku lakukan perintah pak yai walaupun berat  aku lakukan. Tujuan usaha yang keras dan ekstream ini  tidak lain hanya satu ingin lulus. Pada hari ujian pertama aku berangkat jam 4 pagi dari Kalitidu supaya aku bisa melaksanakan tugasku itu. Aku dengan pelan dan melihat kanan dan kiri keadaan masih sepi, jam tanganku menunjukkan pukul 5 pagi jadi masih gelap dan remang-remang. Maka dengan membaca basmallah garam yang bungkusan Koran aku taburkan dari arah kanan pintu hingga kiri pintu allhamdulillah tidak ada orang yang curiga dan menyapa. Andai kata ada orang yang tanya akupun bingung menjawabnya, karena pekerjaan yang tidak masuk akal. Setelah pesan menaburkan garam telah usai hati merasa lega, tambah mantap dan yakin nanti aku dapat dengan  menjawab soal ujiannya. Aku tidak tahu temanku nunuk kapan dan jam berapa dia menaburkan garamnya, semoga dia juga dapat melakukannya.
Ujian akhir nasional hari itu dimulai, sebelum ujian di mulai semua siswa tegang dan serius, apa lagi jam 7.30 sudah berdatangan  panitia ujian. Dan akupun tidak kenal mereka, kelihatannya yang menjadi panitia dari sekolah lain, bukan dari sekolahanku. Mungkin ditukar antar sekolah gabungannya. Suasanya lebih tegang lagi ketika panitia membawa map cokelat berisi soal ujian. Panitia minta agar semua siswa meletakkan pensil dan buku catatan apapun, semua ujian close book artinya siswa dilarang membuka buku catatan apapun. Dan dilarang kerjasama atau contekan dengan teman sebelah serta harus mentaati peraturan  tata tertib lainnya yang berkaitan dengan ujian. Jika saudara melanggar sanksinya dikeluarkan  dari ruangan ini, dan saudara dinyatakan tidak lulus ujian.
 Setelah beberapa pengumuman dibacakan, ujian dimulai. Mata pelajaran pertama adalah agama, menurut saya pelajaran yang mudah, pertanyaannya yang tidak jauh dari buku pelajaran, sudah sering diterangkan oleh pak guru, mengenai rukun islam, rukun iman, doa solat sunnah, tentang rukun haji, melengakapi surat-surat pendek. Saya termasuk cepat mengerjakannya, dari waktu yang disediakan panitia dari soal 50 yang terdiri 20 soal pilihan ganda, 10 soal  sebab akibat 20 soal pertanyaan esay. Kemudian dilanjutkan jam kedua mata pelajaran PMP dan jam ketiga Bahasa Indonesia, semua saya kerjakan dengan mudah.
Besuknya baru dilanjutkan hari kedua ujian, terdiri dari mata pelajran bahasa inggris, matematika dan biologi. Menurut saya pelajaran yang cukup sulit dan menguras pikiran, tetapi aku percaya diri saja, aku kerjakan pelajaran yang mudah dulu, sedangkan yang sulit aku pakai sistem bejo-beji menghitung jari, dengan cara saya sendiri, semua saya pasrahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena aku sudah belajar maksimal, jadi tugasku  sekarang tinggal berdoa. Hari kedua aku lalui dengan lancar terlepas banyak kesulitan untuk menjawabnya.
Hati ini lega rasanya, UAN telah usai, namun justru hati berdebar-debar karena menunggu hari, yang sangat menentukan kelulusan. Akhirnya hari  yang ditunggu-tunggu datang juga,  setelah dua minggu aku menunggu. Waktu itu  semua siswa di kumpulkan di ruangan kelas SMA PGRI Kalitidu, hari itu sesana tegang,  semua guru hadir, tapi ada guru kelihatannya sedih, karena beliaua tahu ada siswanya yang tidak lulus. Suasana bertambah tegang ketika kepala sekolah memasuki ruang kelas namanya bapak Haryono,BA. Beliau  masih muda besar  tinggi dan tampan, beliau membawa amplop coklat sebanyak jumlah siswa. Sebelum membagikan amplop beliau berpesan semua dewan guru sudah berusaha dengan  maksimal baik cara mengajar, memberi pelajaran tambahan. Dan saudara juga sudah maksimal untuk berusaha menjawab ujian dengan sungguh-sungguh maka jika masih ada yang belum lulus berarti itu kehendak yang di atas kalian tidak boleh sedih dan putusasa, kalian harus sabar menambah waktu  satu tahun duduk di SMA ini. Kami akan senang mengajar saudara hingga lulus tahun depan. Dengan muka agak sedih saya sudah dapat membaca pasti ada yang tidak lulus dan gagal. Kemudian satu persatu di panggil dan di beri amplop, hanya pesan beliau tolong amplop jangan di buka dalam kelas sebaiknya di buka sampai rumah masing-masing.
Panggilan dimulai dari nomor kecil, satu persatu dipanggil, setelah amplop dibuka dalam kelas suara ricuh, pecah suara gembira campur tangis. Padahal oleh kepala sekolah untuk tidak di buka dalam kelas namun anak-anak juga tidak sabar lagi untuk melihat nasipnya, lulus atau tidak, bayangkan berjuang 3 tahun ditentukan ujian hanya dua hari. Hatono anak kelihatan pinter gagal, surat memang kurang pinter gagal juga, mustakim teman akrapku gagal juga.giliran aku ambil dengan berdoa bismillah ampop aku buka dengan tangan gemeteran dan kuatir dan hasilnya “LULUS” saya sangat gembira dan bahagia” aku lulus” rasa terimaksihku tak henti-hentinya wajar karena sekolah swasta gabung dengan sekolah negeri aku bisa lulus. Dari 36 anak hanya 28 anak yang lulus sisanya harus mengulang tahun depan.
Itulah cerita tentang masa sekolahku di SMA PGRI Kalitidu tahun 1983.
Cerpen karangan  : Sarpan
Contact person 081216888135
Terinspirasi Cerpen  Umar Yoga Pratama
sarpan lahir di Bojonegoro Jawa Timur, 10-06-1960. Hoby membaca buku  dan joging. Pendidikan SMP dan SMA di Swasta di Bojonegoro, perguruan tinggi di negeri (STIA LAN RI Jakarta tahun 1995).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar