Cerita ini terinspirasi ketika saya jenuh membaca buku pelajaran. genre cerita sendiri beraliran romence dan drama, untuk link saya cantumkan di akhir tulisan ini.
source: https://www.123rf.com/photo_11784701_love-man-and-woman-two-valentine-.html
Cinta itu
abstrak seseorang tidak bisa melihat walaupun berdekatan, suami istri yang
setiap hari, setiap saat berkumpul, juga tidak mengetahui apakah istrinya
mencitai dirinya atau tidak, sebab
banyak pasangan pasutri yang mendadak cerai padahal tidak ada masalah yang
serius, karena cinta tidak bisa di raba, di lihat di cium sekalipun, cinta itu
aneh dan bisa membuat buta seseorang, ada yang bilang kalau sudah catuh cinta tai kucing dianggap coklat, maksudnya apa? Karena jatuh cinta, orang sudah
tidak bisa berfikir normal, bertindakpun
tidak pakai logika tetapi pakai hawa napsu yang penting menuruti kata
cinta.
Cinta
itu indah dan bisa membuat seseorang hidup penuh gairah dan semangat dan semau orang berhak mencintai dan di cintai,
tapi menurut saya cintai yang bagai mana? Apakah mengandung nilai kebaikan atau
sebaliknya, kalau cinta membuahkan kebaikan musti dilakukan dan di perjuangkan,
tetapi kalau cinta akan menjerumuskan seseorang musti di jauhi dan di
singkirkan. Sebelum mengatakan cinta kepada seseorang harus di pertimbangkan terlebih dahulu,
karena cinta bukan mainan yang penuh sandiwara dan cinta mengandung konsekuensi
logis yang harus di tanggung, jika seseorang tidak mencintai dan di paksakan
mereka akan menderiata.Itu hanya menurut pandangan dan penilaian pribadi aku,
karena setiap orang pernah mengalami yang namanya jatuh cinta di dalam
hidupnya, direncanakan atau tidak, suka atau tidak itu sudah menjadi kodrat sebagai
manusia. .Pada
hari itu memang udara sangat panas karena sudah beberapa minggu tidak turun
hujan, belum jalan raya yang padat dan mancet, bis kota dan bemo saling
mendahului, berdesak dan saling mengklakson sehingga membuat telinga tuli
mendadak.
Lestari gadis desa itu tak peduli dengan hiruk pikuknya kemacetan kota
metropolitan, yang tidak pernah sepi dari bisiknya suara kendaraan, dia sudah
tidak sabar lagi kemudian turun dari bis
metromini langsung masuk sebuah kampus yang tidak jauh dari jalan raya, kampus
itu memang tidak begitu terkenal, tapi bagi Lestari kampus terkenal dengan
kampus biasa tidak ada bedanya, yang
penting dia bisa sekolah dan tanpa membebani orang tuanya, bagi Lestari bisa masuk kuliah dan bisa
mengeyam pendidikan di perguruan tinggi,
apalagi di kota metropolitan sudah
merupakan kebanggaan tersendiri. Lestari termasuk gadis desa yang
nekat walaupun kehidupannya serba kekurangan tetapi dia tidak kekurangan akal,
untuk mengejar cita-citanya agar bisa melanjutkan sekolah lagi, sedangkan untuk mebiayai kuliahnya dia rela harus
bekerja pada pagi hari kemudian
kuliah pada sore harinya. Lestari
menyadari betul, bahwa dia bukan anak orang kaya, yang dengan mudah minta
sesuatu kepada kedua orang tuanya, termasuk keinginan untuk melanjutkan kuliah
di perguruan tinggi, maka keputusannya sangat tepat dia harus bekerja untuk
membiayai kuliahnya sendiri. Dia percaya benar bahwa cita-cita yang besar, yaitu ingin menggapai
impiannya untuk menlanjutkan sekolah di perguruan tinggi tidak mudah diraihnya tanpa mau bekerja keras, ulet sabar dan telaten,
cita-cita yang besar itu tidak lain demi untuk kebahagian kedua orang tua dan
juga dirinya sendiri,
Memang
di awal masuk kuliah Lestari membutuhkan banyak uang, terutama untuk membayar
uang gedung dan uang kuliah semester
pertama, sehingga sangat berat hati dan terpaksa harus melelang barang-barang
miliknya berupa perhiasan gelang, kalung dan cicin, bagi dia tidak menyesal
asalkan cita-citanya tercapai, ternyata perhiasan yang dimiliki tidak cukup
juga, sehingga tabungan dari bekerja yang baru beberapa bulanpun untuk tambahan
biaya. Karena uang yang di kumpulkan juga belum cukup sedangkan Lestari sudah
harus melunasi biaya sekolahnya pada hari itu juga, pada siang itu juga dia
harus menjual barang miliknya yang barang itu dari orang tuanya, sebenarnya dia
sangat berat, karena barang itu juga kesayangan orang tuanya, mungkin barang
itu dulu ketika mendapatkan ada
sejarahkan sehingga sulit untuk di lupakan dan memiliki makna yang besar.
Sebenarnya uang biaya masuk pertama tidak terlalu besar
jumlahnya tidak mencapai angka Rp. 4.000.000,- uang sejumlah ini sebenarnya
tidak terlalu besar, tapi bagi orang
yang mampu, beda dengan Lestari karena dia orang tidak mampu, tapi dia masih
bersyukur karena hasil penjualan barang dari orangtuanya dan simpanan hasil
kerja kerasnya masih mencukupi untuk menyelesaikan biaya pendaftaran dan uang
gedung sehingga pikirannya menjadi plong dan gembira. Ia dengan hati yang happy
dan berbunga-bunga karena bisa menyelesaikan pendaftaran dengan susah payah,
toh akhirnya sekses juga, dia juga
bangga bisa melanjutkan pendidikan lagi, bagi Lestari tidak penting nama
besar perguruan tinggi, mau perguruan tinggi terkenal atau tidak terkenal tidak
menjadi masalah, pikir dia tidak semua lulusan dari universitas yang ternama
mereka mudah mencari pekerjaan karena mutunya bagus, dan juga tidak semua
mahasiswa yang tidak terkenal sulit mencari pekerjaan, jadi menurut Lestari
kampus tidak terlalu penting, yang penting dari kemauan dan kualitas mahasiswa
secara perorangan.
Jadi menurut dia seseorang
bisa sukses itu karena hasil usahanya dan perjuangannya sendiri bukan hadiah dan pemberian dari orang lain, dia
memilih fakultas ilmu sosial dan ilmu pengetahuan atau FISIP dan mengambil
jurusan administrasi, karena jurusan administrasi juga ada matakuliah
dasar-dasar manajemen, ada manajemen waktu, ada juga manajemen perusahaan jadi
nyambung pekerjaan di kantor dengan jurusan kuliah yang diambil, dia sekarang
sudah mulai masuk kuliah, dan tetap sambil bekerja, kedua-duanya berjalan
dengan lancar karena waktunya berbeda, waktu kerja pada pagi hari, sedangkan
waktu kuliah pada sore hari, sehingga untuk mengikuti perkuliahan tidak ada
masalah.
Walaupun
sibuk Lestari ingin mebagi waktu seadil-adilnya karena dia mempunyai konsep
hidup, yaitu ada pembagian waktu yang
harus di gunakan, antara bekerja, sekolah dan membantu orang tua, dia tidak
ingin menghabiskan waktu di tempat kerja tetapi tidak maksimal kuliahnya, dan
tidak mau terlalu sibuk di kampus tetapi tidak ada waktu untuk membantu
orangtuanya., kehidupan mahasiswa memang berbeda dengan saat duduk di
bangku SMA dulu, banyak hal-hal yang
baru dia dapatkan, cara bergaul, cara berfikir, cara berkomunikasi, cara
berpakaian dan masih banyak lagi untuk beradaptasi, tetapi Lestari senang,
happy dan penuh semangat, hanya satu yang selalu menggangu pikirannya, yang dia
merasa kurang percaya diri di karenakan bodinya terlalu gemuk, walaupun
sebenarnya teman-temannya tidak pernah, menyinggung dan mengejeknya. Tahun
pertama dia enjoy bergaul sesama rekan, banyak kegiatan yang dia ikuti, baik
kuliah rutin setiap hari maupun ekstrakulikuler di badan eskutif mahasiswa atau
BEM, tetapi alangkah kecewanya saat memasuki awal tahun kedua, ada seorang mahasiswa
yang usil kepadanya, dia bernama Amir
teman seangkatan, hampir setiap ketemu dia
seperti menyindir diriku, lama kelamaan berani terang-terangan menghina
diriku. Pada puncaknya Lestari marah sangat marah dan tersinggung karena dia
tetap manusia, yang terbatas tingkat
kesabarannya, karena dia sedih, sumpek beban yang ada di dada sudah tidak mampu
lagi menanggung sendiri, maka dia memberitahukan kepada orangtuanya tentang
masalah terbesarnya.
Sepulang
dari kampus malam itu juga , Lestari sudah tidak tahan lagi, langsung ketemu
bapak dan ibunya “ megadukan apa yang telah menimpa pada dirinya, dia lama
tidak bisa bicara, diam seribu bahasa hanya air matanya yang mengalir membasahi
pipinya yang masih lusuh karena belum sempat cuci muka” “ bapak..ibu.. Lestari
ada masalah di kampus, aku sakit hati, aku terasa terhina, aku jadi tidak
nyaman sekarang di kampus” temanku Amir namanya setiap ketemu dia ngata-ngatai
aku seperti limbuk, aku sakit hati pak..bu.. apa yang harus aku lakukan?.Tetapi
orangtua Lestari baik bapaknya maupun ibunya menanggapi dengan santun dan
bijaksana, bapaknya memberikan nasehat, bahwa Amir itu hanya bercanda tidak serius hanya untuk sekedar humor supaya
suasana tidak kaku dan menjenuhkan jadi jangan di ambil hati, sedangkan ibunya
memberi nasehat, jadi anak jangan mudah pra sangka buruk, temanmu Amir itu lucu, dia anak yang komunikatif, kreasi dan inovatif justru kamu
harus banyak belajar dari dia jangan malah mudah tersinggung dan benci sama
dia, dia anak baik pada suatu saat nanti kamu pasti mengerti karakter dia yang
sebenarnya sabarlah.
Pada
suatu hari Lestari terkejut setengah mati, betapa tidak si Amir pemuda yang selama ini di benci, karena suka meledek dan menghina dirinya tiba-tiba menyatakan cinta dan
jatuh hati, yang sebelumnya tidak pernah dia bayangkan dan duga. Ah itu
hanya perasaanku saja dia kan sudah punya pacar, la pacarnya mau dikemanakan,
ah tidak ah dikira aku merebut pacar teman, Dika kan juga temanku , tapi sebenarnya sih aku suka sama si Amir. Hati Lestari tidak bisa di
tipu dan tertutupi, awal melangkahkan kaki di kampus ini dia ketemu pemuda yang
bernama Amir, pertama kali masuk di kampus waktu itu dia sedang ulang tahun,
aku masih ingat betul pegangan tangannya, lama dan tidak di lepas-lepas dia
sangat terkesan oleh pemuda itu, Amir memang
pemuda beda dengan yang lain, dia lucu, imut-imut, bawel tapi menyenangkan,
waktu itu dia gugup dan mukanya pucat, aku tidak tau apa dia baru salaman dengan cewek seperti diriku.
Namun Lestari tetap menjaga perasaan, karena pacarnya
juga teman dekat Lestari ya Dika namanya, teman aku, kasihan dia kalau aku juga menaruh hati dengan si Amir cowok
lucu itu.
Dengan
tanpa terasa Lestari sudah memasuki semester tiga, memang waktu tidak terasa,
karena Lestari tidak pernah nganggur, mulai dari pagi sudah kerja ke kantor, pulang dari kantor tidak ke rumah
tetapi langsung ke kampus, kerja rutin
itu setiap hari tanpa henti, kecuali hari sabtu dan hari minggu, karena holiday
, free not working , sehingga waktu
liburan untuk membantu ibu di rumah, walaupun Lestari sibuk tetapi tetap
bisa mengatur waktu, antara bekerja dan kuliah, walaupun sebenarnya ada
ganjalan pikiran tentang Amir, tapi berusaha di lupakan. Aku merasa aneh dengan si Amir belakangan ini, setelah
peristiwa beberapa bulan yang lalu,
sekarang sikap dan bicaranya
berbeda, kalau dulu jika ketemu aku nerocos, bawel, nyindir, tetapi sekarang
sebaliknya, dia sekarang jadi pendiam dan santun, jangan- jangan dia ada
masalah dengan pacarnya? Bodolah memang dia gua pikiran, saudara kagak pacar
bukan bodo amat. Tetapi terasa beda
sekarang, ada sesuatu yang gue rasakan hilang dari si Amir menyebalkan itu bisanya dia ngoceh, bringsik sekarang sepi
ada apaan ya? Sekarang Lestari sudah agak ngeh tentang
si Amir, setelah kusak-kusuk menggali sebuah berita dari sumber yang valit dan
terpercaya, yang menyebabkan pemuda bawel itu jadi pemuda tak bersuara alias
murung.
Ternyata dia ada hati sama aku,
pantesan mukenye beda, tapi dia sebenarnya juga masih berat meninggalkan si
Dika kaciandeh lu , Tapi jujur akupun
akhir- akhir ini juga capai, karena pada semester empat ini aku mendapat
tugas baru dari bosku, bagaimana tidak capek
di satu sisi aku harus kuliah, di sisi lain aku punya pekerjaan tetap di
kantor, aku juga harus loyal kepada atasanku, apa lagi sekarang atasanku
memberi tugas tambahan baru dia juga sadar saat ini posisinya sangat ruwet, di
kantor harus bekerja keras, kuliah tetap berjalan tetapi pikiran kurang fokus
dan mulai terganggu karena sebuah “cinta” si Amir selalu membayang-bayangi
hidupnya, untung orang tua Lestari selalu memperhatikan dan menasehati, terdengar suara ibu lembut dan lirih
“ Lestari dengarkan kata ibu, sebelum melangkah kamu harus di pikirkan
masak-masak, jangan tergesa-gesa mengambil sebuah pilihan, sebab setiap pilihan
ada risiko yang harus di tanggung“ Tekat dan
pendirian Lestari semakin kokoh dan kuat setelah mendengarkan petuah dari ayah dan ibunya, dia harus hati-hati dalam
berfikir, berucap dan menentukan pilihan , harapannya jangan sampai salah
menentukan sikap dan pilihan yang akhirnya membawa kerugian dan kegagalan.
Kerja keras Lestari membuahkan hasil yang memuaskan, karena ternyata
perkerjaan di kantornya bisa di selesaikan dengan baik, sedangkan kuliahnya pun
berjalan semestinya, pendidikan bisa berjalan tanpa mengganggu perkerjaan di
kantor, itu karena mengatur waktu yang tepat dan benar, . Manfaat yang dirasakan Lestari adalah di kantor tetap berprestasi dan mendapat
kepercayaan dari atasannya sehingga tercipta hubungan yang komunikatif antara
pimpinan dan karyawan. Atasan mengakui
kemampuan Lestari walaupun di beri tugas yang berat berkat kerja kerasnya telah
bisa menyelesaikan pekerjaan dengan baik, sedangkan Lestari semakin yakin dan
percaya diri dengan bekerja keras dan bekerja sama dengan teman sejawatnya
mampu mengerjakan pekerjaan yang sulit sekalipun. Diam-diam Lestari mulai gelisah, teringat tentang Amir, dimana dia sekarang pikir Lestari, kemudian dia berusaha mencari
informasi dari teman-temannya, dan
dia bilang bahwa Amir suka sama Lestari, setelah mendapat informasi itu, Lestari sudah tidak
sabar lagi, langsung dia mengambil poncelnya dan menghubungi si Amir.
Setelah
kejadian itu, antara Amir dan Lestari, selalu bersama- sama kemana saja pergi,
ke kantin, ke perpustakaan bahkan sering nonton bareng, mereka berdua merasa
damai jika duduk berdampingan, waktu tidak terasa hampir satu semester
berpacaran,. Setelah hampir satu
semester mereka pacaran, tiba- tiba Lestari seperti ada yang mengingatkan, bahwa Amir
pernah pacaran dan mempunyai segudang kenangan dengan Dika, ya Dika dulu juga pernah jatuh
hati dengan Amir, seperti sekarang ini aku jatuh cinta dengan dia, sekarang dia
harus tegas memilih aku apa dia yang menjadi pacarnya, harus memilih salah satu
harus. Malamnya Lestari tidak bisa tidur dengan nyenyak, apalagi
setelah tadi sore di nasehati bapak, ibu dan adiknya tentang hubungannya
dengan Amir, cintaku harus jelas,
aku sudah tidak sabar lagi besuk harus bisa ketemu dengan Amir dan sekaligus
mendatangkan Dika, walaupun Amir tidak harus tau rencanaku ini, biar jelas siapa yang harus di pilih dan
di cintai Amir. Aku datang paling awal, kemudian Amir terakhir Dika yang datang, pembukaan
aku awali, aku bilang maaf ya, santai saja aku ingin bicara dengan kalian,
jujur aku mencintai Amir, bagiku Amir adalah
harapan masa depanku, tapi yang memutuskan adalah Amir sendiri cintaku tidak mau di bagi dua, kemudian Dika pun berbicara tentang cintanya kepada Amir, sampai sekarang akupun belum
bisa melupakan Amir kata Dika, tapi aku
ingin dengar langsung dari kamu karena cinta itu tidak seperti kopi yang selalu
berakibat pahit, cinta itu harus jelas putih atau hitam, manis atau pahit, tapi
jujur aku masih mencintai kamu kata Dika.
Wah dadaku makin sakit,
aku tidak kuat lagi, suaranya lirih, air matanya mengalir membasahi pipi. Sebenarnya Lestari sudah
tidak tahan, mau pergi tapi tiba-tiba tangannya di pegang oleh Amir, kamu
jangan pergi, aku cinta kamu, aku milih kamu, Lestari hidupku ingin
bahagia…bahagia bersama kamu. Setelah kejadian itu, Lestari bercerita dengan bapak dan ibunya, tentang
semua hal, tentang pekerjaannya di kantor, tentang kuliahnya dan tak lupa
tentang cintanya kepada Amir, dia berterimakasih kepada bapak dan ibunya, yang
telah membuat kehidupan yang hangat, penuh kasih sayang, penuh keharmonisan,
karena keharmonisan, kasih sayang, keseimbangan di mulai dari keluarga, bukan
dari luar rumah. Kadang- kadang pacaran itu indah, cinta itu
manis seperti madu, indah seperti bunga yang bisa mebawa seseorang melayang bahagia, tetapi juga sebaliknya cinta bisa
membawa kepahitan seperti kopi bahkan jika cinta buta bisa membawa kehancuran. Beda dengan cinta
orang tua, kasih sayang keluarga, bagaikan rumah di surga, penuh kesejukan,
kedamaian dan kebahagian yang sejati. Cinta itu berawal dari pandangan pertama,
ada rasa simpati, ada kenyamanan, cinta itu butuh proses, butuh perjuangan dan
pengorbanan.
Okt. 2016. Terinspirasi sumber
dari :
http://www.kompasiana.com/widyaningsih/perjalanan-cinta-tak-semudah-meraih-harmoni.
