Kamis, 03 Mei 2018

Cinta Gadis Lestari



Cerita ini terinspirasi ketika saya jenuh membaca buku pelajaran. genre cerita sendiri beraliran romence dan drama, untuk link saya cantumkan di akhir tulisan ini.


                                          source: https://www.123rf.com/photo_11784701_love-man-and-woman-two-valentine-.html


Cinta itu abstrak seseorang tidak bisa melihat walaupun berdekatan, suami istri yang setiap hari, setiap saat berkumpul, juga tidak mengetahui apakah istrinya mencitai dirinya  atau tidak, sebab banyak pasangan pasutri yang mendadak cerai padahal tidak ada masalah yang serius, karena cinta tidak bisa di raba, di lihat di cium sekalipun, cinta itu aneh dan bisa membuat buta seseorang, ada yang bilang kalau sudah catuh cinta tai kucing dianggap coklat, maksudnya apa? Karena jatuh cinta, orang sudah tidak bisa berfikir normal, bertindakpun  tidak pakai logika tetapi pakai hawa napsu yang penting menuruti kata cinta.
            
         Cinta itu indah dan bisa membuat seseorang hidup penuh gairah dan semangat dan  semau orang berhak mencintai dan di cintai, tapi menurut saya cintai yang bagai mana? Apakah mengandung nilai kebaikan atau sebaliknya, kalau cinta membuahkan kebaikan musti dilakukan dan di perjuangkan, tetapi kalau cinta akan menjerumuskan seseorang musti di jauhi dan di singkirkan. Sebelum mengatakan cinta kepada seseorang  harus di pertimbangkan terlebih dahulu, karena cinta bukan mainan yang penuh sandiwara dan cinta mengandung konsekuensi logis yang harus di tanggung, jika seseorang tidak mencintai dan di paksakan mereka akan menderiata.Itu hanya menurut pandangan dan penilaian pribadi aku, karena setiap orang pernah mengalami yang namanya jatuh cinta di dalam hidupnya, direncanakan atau tidak, suka atau tidak itu sudah menjadi kodrat sebagai manusia.  .Pada hari itu memang udara sangat panas karena sudah beberapa minggu tidak turun hujan, belum jalan raya yang padat dan mancet, bis kota  dan bemo saling mendahului, berdesak dan saling mengklakson sehingga membuat telinga tuli mendadak.

Lestari gadis desa itu tak peduli dengan hiruk pikuknya kemacetan kota metropolitan, yang tidak pernah sepi dari bisiknya suara kendaraan, dia sudah tidak sabar lagi kemudian turun dari  bis metromini langsung masuk sebuah kampus yang tidak jauh dari jalan raya, kampus itu memang tidak begitu terkenal, tapi bagi Lestari kampus terkenal dengan kampus  biasa tidak ada bedanya, yang penting dia bisa sekolah dan tanpa membebani orang tuanya,  bagi Lestari bisa masuk kuliah dan bisa mengeyam pendidikan  di perguruan tinggi, apalagi  di kota metropolitan sudah merupakan kebanggaan tersendiri. Lestari termasuk gadis desa yang nekat walaupun kehidupannya serba kekurangan tetapi dia tidak kekurangan akal, untuk mengejar cita-citanya agar bisa melanjutkan sekolah lagi, sedangkan  untuk mebiayai kuliahnya dia rela  harus  bekerja pada  pagi hari kemudian kuliah pada sore harinya. Lestari menyadari betul, bahwa dia bukan anak orang kaya, yang dengan mudah minta sesuatu kepada kedua orang tuanya, termasuk keinginan untuk melanjutkan kuliah di perguruan tinggi, maka keputusannya sangat tepat dia harus bekerja untuk membiayai kuliahnya sendiri. Dia percaya benar bahwa  cita-cita yang besar, yaitu ingin menggapai impiannya untuk menlanjutkan sekolah di perguruan tinggi  tidak mudah diraihnya tanpa mau  bekerja keras, ulet sabar dan telaten, cita-cita yang besar itu tidak lain demi untuk kebahagian kedua orang tua dan juga dirinya sendiri,
            
        Memang di awal masuk kuliah Lestari membutuhkan banyak uang, terutama untuk membayar uang gedung dan uang kuliah  semester pertama, sehingga sangat berat hati dan terpaksa harus melelang barang-barang miliknya berupa perhiasan gelang, kalung dan cicin, bagi dia tidak menyesal asalkan cita-citanya tercapai, ternyata perhiasan yang dimiliki tidak cukup juga, sehingga tabungan dari bekerja yang baru beberapa bulanpun untuk tambahan biaya. Karena uang yang di kumpulkan juga belum cukup sedangkan Lestari sudah harus melunasi biaya sekolahnya pada hari itu juga, pada siang itu juga dia harus menjual barang miliknya yang barang itu dari orang tuanya, sebenarnya dia sangat berat, karena barang itu juga kesayangan orang tuanya, mungkin barang itu dulu  ketika mendapatkan ada sejarahkan sehingga sulit untuk di lupakan dan memiliki makna yang besar.
            
         Sebenarnya uang biaya masuk pertama tidak terlalu besar jumlahnya tidak mencapai angka Rp. 4.000.000,- uang sejumlah ini sebenarnya tidak terlalu besar, tapi bagi  orang yang mampu, beda dengan Lestari karena dia orang tidak mampu, tapi dia masih bersyukur karena hasil penjualan barang dari orangtuanya dan simpanan hasil kerja kerasnya masih mencukupi untuk menyelesaikan biaya pendaftaran dan uang gedung sehingga pikirannya menjadi plong dan gembira. Ia dengan hati yang happy dan berbunga-bunga karena bisa menyelesaikan pendaftaran dengan susah payah, toh akhirnya sekses juga, dia juga  bangga bisa melanjutkan pendidikan lagi, bagi Lestari tidak penting nama besar perguruan tinggi, mau perguruan tinggi terkenal atau tidak terkenal tidak menjadi masalah, pikir dia tidak semua lulusan dari universitas yang ternama mereka mudah mencari pekerjaan karena mutunya bagus, dan juga tidak semua mahasiswa yang tidak terkenal sulit mencari pekerjaan, jadi menurut Lestari kampus tidak terlalu penting, yang penting dari kemauan dan kualitas mahasiswa secara perorangan.

        Jadi menurut dia seseorang bisa sukses itu karena hasil usahanya dan perjuangannya sendiri bukan  hadiah dan pemberian dari orang lain, dia memilih fakultas ilmu sosial dan ilmu pengetahuan atau FISIP dan mengambil jurusan administrasi, karena jurusan administrasi juga ada matakuliah dasar-dasar manajemen, ada manajemen waktu, ada juga manajemen perusahaan jadi nyambung pekerjaan di kantor dengan jurusan kuliah yang diambil, dia sekarang sudah mulai masuk kuliah, dan tetap sambil bekerja, kedua-duanya berjalan dengan lancar karena waktunya berbeda, waktu kerja pada pagi hari, sedangkan waktu kuliah pada sore hari, sehingga untuk mengikuti perkuliahan tidak ada masalah.

Walaupun sibuk Lestari ingin mebagi waktu seadil-adilnya karena dia mempunyai konsep hidup, yaitu ada pembagian  waktu yang harus di gunakan, antara bekerja, sekolah dan membantu orang tua, dia tidak ingin menghabiskan waktu di tempat kerja tetapi tidak maksimal kuliahnya, dan tidak mau terlalu sibuk di kampus tetapi tidak ada waktu untuk membantu orangtuanya., kehidupan mahasiswa memang berbeda dengan saat duduk di bangku  SMA dulu, banyak hal-hal yang baru dia dapatkan, cara bergaul, cara berfikir, cara berkomunikasi, cara berpakaian dan masih banyak lagi untuk beradaptasi, tetapi Lestari senang, happy dan penuh semangat, hanya satu yang selalu menggangu pikirannya, yang dia merasa kurang percaya diri di karenakan bodinya terlalu gemuk, walaupun sebenarnya teman-temannya tidak pernah, menyinggung dan mengejeknya. Tahun pertama dia enjoy bergaul sesama rekan, banyak kegiatan yang dia ikuti, baik kuliah rutin setiap hari maupun ekstrakulikuler di badan eskutif mahasiswa atau BEM, tetapi alangkah kecewanya saat memasuki awal tahun kedua, ada seorang mahasiswa yang usil kepadanya,  dia bernama Amir teman seangkatan, hampir setiap ketemu dia  seperti menyindir diriku, lama kelamaan berani terang-terangan menghina diriku. Pada puncaknya Lestari marah sangat marah dan tersinggung karena dia tetap manusia,  yang terbatas tingkat kesabarannya, karena dia sedih, sumpek beban yang ada di dada sudah tidak mampu lagi menanggung sendiri, maka dia memberitahukan kepada orangtuanya tentang masalah terbesarnya.
            
            Sepulang dari kampus malam itu juga , Lestari sudah tidak tahan lagi, langsung ketemu bapak dan ibunya “ megadukan apa yang telah menimpa pada dirinya, dia lama tidak bisa bicara, diam seribu bahasa hanya air matanya yang mengalir membasahi pipinya yang masih lusuh karena belum sempat cuci muka” “ bapak..ibu.. Lestari ada masalah di kampus, aku sakit hati, aku terasa terhina, aku jadi tidak nyaman sekarang di kampus” temanku Amir namanya setiap ketemu dia ngata-ngatai aku seperti limbuk, aku sakit hati pak..bu.. apa yang harus aku lakukan?.Tetapi orangtua Lestari baik bapaknya maupun ibunya menanggapi dengan santun dan bijaksana, bapaknya memberikan nasehat, bahwa Amir itu hanya bercanda tidak serius hanya untuk sekedar humor supaya suasana tidak kaku dan menjenuhkan jadi jangan di ambil hati, sedangkan ibunya memberi nasehat, jadi anak jangan mudah pra sangka buruk, temanmu Amir itu lucu, dia anak yang komunikatif, kreasi dan inovatif justru kamu harus banyak belajar dari dia jangan malah mudah tersinggung dan benci sama dia, dia anak baik pada suatu saat nanti kamu pasti mengerti karakter dia yang sebenarnya sabarlah.
           
             Pada suatu  hari Lestari terkejut setengah mati, betapa tidak si Amir pemuda yang selama ini di benci, karena suka meledek dan menghina dirinya tiba-tiba menyatakan cinta dan  jatuh hati, yang sebelumnya tidak pernah dia bayangkan dan duga. Ah itu hanya perasaanku saja dia kan sudah punya pacar, la pacarnya mau dikemanakan, ah tidak ah dikira aku merebut pacar teman, Dika kan juga temanku , tapi sebenarnya sih aku suka sama si Amir. Hati Lestari tidak bisa di tipu dan tertutupi, awal melangkahkan kaki di kampus ini dia ketemu pemuda yang bernama Amir, pertama kali masuk di kampus waktu itu dia sedang ulang tahun, aku masih ingat betul pegangan tangannya, lama dan tidak di lepas-lepas dia sangat terkesan oleh pemuda itu, Amir memang pemuda beda dengan yang lain, dia lucu, imut-imut, bawel tapi menyenangkan, waktu itu dia gugup dan mukanya pucat, aku tidak tau apa  dia baru salaman dengan cewek seperti diriku. Namun Lestari tetap menjaga perasaan, karena pacarnya juga teman dekat Lestari ya Dika namanya, teman aku, kasihan dia kalau aku juga menaruh hati dengan si Amir cowok lucu itu.
           
           Dengan tanpa terasa Lestari sudah memasuki semester tiga, memang waktu tidak terasa, karena Lestari tidak pernah nganggur, mulai dari pagi sudah kerja  ke kantor, pulang dari kantor tidak ke rumah tetapi  langsung ke kampus, kerja rutin itu setiap hari tanpa henti, kecuali hari sabtu dan hari minggu, karena holiday , free not working , sehingga waktu  liburan untuk membantu ibu di rumah, walaupun Lestari sibuk tetapi tetap bisa mengatur waktu, antara bekerja dan kuliah, walaupun sebenarnya ada ganjalan pikiran tentang Amir, tapi berusaha di lupakan. Aku merasa  aneh dengan si Amir belakangan ini, setelah peristiwa beberapa bulan yang lalu,  sekarang sikap dan bicaranya berbeda, kalau dulu jika ketemu aku nerocos, bawel, nyindir, tetapi sekarang sebaliknya, dia sekarang jadi pendiam dan santun, jangan- jangan dia ada masalah dengan pacarnya? Bodolah memang dia gua pikiran, saudara kagak pacar bukan bodo amat. Tetapi terasa beda sekarang, ada sesuatu yang gue rasakan hilang dari si Amir menyebalkan itu bisanya dia ngoceh, bringsik sekarang sepi ada apaan ya? Sekarang Lestari sudah agak ngeh tentang si Amir, setelah kusak-kusuk menggali sebuah berita dari sumber yang valit dan terpercaya, yang menyebabkan pemuda bawel itu jadi pemuda tak bersuara alias murung.

Ternyata  dia ada hati sama aku, pantesan mukenye beda, tapi dia sebenarnya juga masih berat meninggalkan si Dika kaciandeh lu , Tapi jujur akupun  akhir- akhir ini juga capai, karena pada semester empat ini aku mendapat tugas baru dari bosku, bagaimana tidak capek  di satu sisi aku harus kuliah, di sisi lain aku punya pekerjaan tetap di kantor, aku juga harus loyal kepada atasanku, apa lagi sekarang atasanku memberi tugas tambahan baru dia juga sadar saat ini posisinya sangat ruwet, di kantor harus bekerja keras, kuliah tetap berjalan tetapi pikiran kurang fokus dan mulai terganggu karena sebuah “cinta” si Amir selalu membayang-bayangi hidupnya, untung orang tua Lestari selalu memperhatikan dan menasehati, terdengar suara ibu lembut dan lirih  “ Lestari dengarkan kata ibu, sebelum melangkah kamu harus di pikirkan masak-masak, jangan tergesa-gesa mengambil sebuah pilihan, sebab setiap pilihan ada risiko yang harus di tanggung“ Tekat dan pendirian  Lestari semakin kokoh dan kuat setelah mendengarkan petuah dari ayah dan ibunya, dia harus hati-hati dalam berfikir, berucap dan menentukan pilihan , harapannya jangan sampai salah menentukan sikap dan pilihan yang akhirnya membawa kerugian dan kegagalan.

Kerja keras Lestari membuahkan hasil yang memuaskan, karena ternyata perkerjaan di kantornya bisa di selesaikan dengan baik, sedangkan kuliahnya pun berjalan semestinya, pendidikan bisa berjalan tanpa mengganggu perkerjaan di kantor, itu karena mengatur waktu yang tepat dan benar,  . Manfaat yang dirasakan Lestari adalah di kantor tetap berprestasi dan mendapat kepercayaan dari atasannya sehingga tercipta hubungan yang komunikatif antara pimpinan  dan karyawan. Atasan mengakui kemampuan Lestari walaupun di beri tugas yang berat berkat kerja kerasnya telah bisa menyelesaikan pekerjaan dengan baik, sedangkan Lestari semakin yakin dan percaya diri dengan bekerja keras dan bekerja sama dengan teman sejawatnya mampu mengerjakan pekerjaan yang sulit sekalipun. Diam-diam Lestari mulai gelisah, teringat tentang Amir, dimana dia sekarang pikir Lestari, kemudian dia berusaha mencari informasi dari  teman-temannya, dan dia  bilang bahwa Amir suka sama Lestari, setelah mendapat informasi itu, Lestari sudah tidak sabar lagi, langsung dia mengambil poncelnya dan menghubungi si Amir.
               
               Setelah kejadian itu, antara Amir dan Lestari, selalu bersama- sama kemana saja pergi, ke kantin, ke perpustakaan bahkan sering nonton bareng, mereka berdua merasa damai jika duduk berdampingan, waktu tidak terasa hampir satu semester berpacaran,. Setelah hampir satu semester mereka pacaran, tiba- tiba Lestari  seperti ada yang mengingatkan, bahwa Amir pernah pacaran dan mempunyai segudang kenangan dengan Dika, ya Dika dulu juga pernah jatuh hati dengan Amir, seperti sekarang ini aku jatuh cinta dengan dia, sekarang dia harus tegas memilih aku apa dia yang menjadi pacarnya, harus memilih salah satu harus. Malamnya Lestari tidak bisa tidur dengan nyenyak,  apalagi  setelah tadi sore di nasehati bapak, ibu dan adiknya tentang hubungannya dengan Amir, cintaku harus jelas, aku sudah tidak sabar lagi besuk harus bisa ketemu dengan Amir dan sekaligus mendatangkan Dika, walaupun Amir tidak harus tau rencanaku ini, biar jelas siapa yang harus di pilih dan di cintai Amir. Aku datang paling awal, kemudian Amir terakhir Dika yang datang, pembukaan aku awali, aku bilang maaf ya, santai saja aku ingin bicara dengan kalian, jujur aku mencintai Amir, bagiku Amir adalah harapan masa depanku, tapi yang memutuskan adalah Amir sendiri cintaku tidak mau di bagi dua, kemudian Dika pun berbicara tentang cintanya kepada Amir, sampai sekarang akupun belum bisa melupakan Amir kata Dika, tapi aku ingin dengar langsung dari kamu karena cinta itu tidak seperti kopi yang selalu berakibat pahit, cinta itu harus jelas putih atau hitam, manis atau pahit, tapi jujur aku masih mencintai kamu kata Dika.

Wah dadaku makin sakit, aku tidak kuat lagi, suaranya lirih, air matanya  mengalir membasahi pipi. Sebenarnya Lestari sudah tidak tahan, mau pergi tapi tiba-tiba tangannya di pegang oleh Amir, kamu jangan pergi, aku cinta kamu, aku milih kamu, Lestari hidupku ingin bahagia…bahagia bersama kamu. Setelah kejadian itu, Lestari bercerita dengan bapak dan ibunya, tentang semua hal, tentang pekerjaannya di kantor, tentang kuliahnya dan tak lupa tentang cintanya kepada Amir, dia berterimakasih kepada bapak dan ibunya, yang telah membuat kehidupan yang hangat, penuh kasih sayang, penuh keharmonisan, karena keharmonisan, kasih sayang, keseimbangan di mulai dari keluarga, bukan dari luar rumah. Kadang- kadang  pacaran itu indah, cinta itu manis seperti madu, indah seperti bunga yang bisa  mebawa seseorang melayang  bahagia, tetapi juga sebaliknya cinta bisa membawa kepahitan seperti kopi bahkan jika cinta buta  bisa membawa kehancuran. Beda dengan cinta orang tua, kasih sayang keluarga, bagaikan rumah di surga, penuh kesejukan, kedamaian dan kebahagian yang sejati. Cinta itu berawal dari pandangan pertama, ada rasa simpati, ada kenyamanan, cinta itu butuh proses, butuh perjuangan dan pengorbanan.
 Okt. 2016. Terinspirasi  sumber dari : http://www.kompasiana.com/widyaningsih/perjalanan-cinta-tak-semudah-meraih-harmoni.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar