Kategori: Cerpen Penyesalan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 20 February 2019
Awalnya aku tak pernah menyangka akan bersekolah di situ. Tak terlintas sedikit pun di otakku, untuk masuk sekolah itu. Sebelumnya aku tidak pernah membayangkan sedikitpun bahwa aku akan meniba ilmu di tempat itu. Di sekolah lingkungan yang kumuh, jorok, kotor yang sudah tidak layak jika disebut tempat meninba ilmu, bagaimana kita bias sekolah ditempat seperti itu, mana mungkin kita bias fokus, konsentrasi belajar ditempat yang tidak nyaman seperti itu. Setelah aku masuk aku merasa menyesal, kenapa aku masuk disekolah itu, sekolah yang bukan sesuai dengan impianku. Dari sejak kecil aku ingin mendapat sekolah yang bagus, yang nyaman, yang berkualitas, agar setelah tamat SMP aku tidak kesulitan mendapat se kolahan yang berkualitas, mudah mendapat sekolah negeri. . Namun, setelah kupikir-pikir mungkin ini rencana Allah yang paling baik untukku. Dan seharusnya aku bersyukur masih bisa sekolah.
Kini aku singgah di kelas X TKJ 1. Di SMK aku selalu berdua dengan tini, sahabat baruku. Sebetulnya, kami waktu SMP satu sekolah. Namun tak begitu akrab seperti sekarang ini.
Hari demi hari telah kulalui. Aku mulai dekat dengan teman-teman cewek di kelasku. Semakin hari kami semakin akrab, karena kami selalu menyebut nama kamvret, munculah sebuah ide untuk menamai persahabatan kami dengan sebutan *KMVRET GENGS*.
Di SMK aku sering dihina oleh anak laki-laki, Beda sekali dengan di SMP. Di SMP aku mempunyai teman laki-laki yang baik, yang tidak suka menghinaku. Hinaan itu masih terlontar di mulut mereka hingga aku kelas XII. Terkadang aku merasa sangat sedih, dan terkadang aku tidak bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Allah kepadaku. Pernah kubertanya “Kenapa aku tak sempurna seperti orang lain?” dan pernah ku merasa bahwa Allah tidak adil kepadaku. Namun akhirnya aku sadar bahwa Allah sedang menguji keimananku, bahwa allah sayang kepadaku. Dan disetiap cobaan pasti akan datang kebahagian.
Sempat kuteringat masa SMP ku, dimana aku mempunyai sahabat yang bernama ningsih, yang selalu dihina dan dibully oleh anak laki-laki teman sekelasku. Dalam hati aku merasa kasihan kepadanya, namun aku tak pernah menolongnya. Dan sempat ku bicara dalam hati “apakah ketika aku berada di posisi dia, aku akan sekuat dan sesabar dia?” Allah pun menjawab semua itu ketika aku di SMK, aku merasakan apa yang ningsih rasakan saat itu. Ternyata aku tidak bisa sekuat dan sesabar dia. Aku merasa menyesal tidak menolongnya waktu itu. Andai saja waktu bisa kuputar, aku ingin sekali membela ningsih dan menolongnya.
Namun itu semua adalah sebuah masa lalu yang tidak akan bisa kembali di masa esok. Sekarang aku hanya meminta kepada Allah untuk diberi kesabaran atas hinaan itu. Dan percaya bahwa rencana Allah itu indah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar