Salam jumpa namaku sarpan, aku dilahirkan di Dusun
Ngrapah, Desa Sengon Kabupaten Bojonegoro. Tanggal 10-6-1960, jadi usiaku
sekarang sudah 59 tahun, aku sudah pensiun dari pegawai pemerintahan. Aku ingin berceritera masa laluku, aku orang desa yang tidak mampu
tapi aku ingin memndapat pendidikan yang layak sebagaimana masyarakat pada
umumnya. Cerita ini agak panjang, pembaca dapat mengambil sisi positifnya,
sedangkan sisi negatifnya diabaikan saja, semoga lika-liku kehidupan orang desa dapat diambil manfaatnya.
Aku akan mulai cerita ketika aku mau memasuki bangku SMA
PGRI Kalitidu, sebelumnya aku belajar di SMP PGRI Ngambon tamat tahun 1980 jadi aku asli orang deso.
Setelah tamat SMP aku melanjutkan ke SMA
PGRI kalitidu. SMA PGRI Kalitidu adalah
sekolah lanjutan atas yang paling dekat dengan kampung halamanku, walaupun
jaraknya dari rumah ke SMA sekitar 40
km, tetapi itulah sekolah lanjutan yang paling dekat
dengan kampungku. Pada saat pendaftaran pertama aku datang di Kalitidu, aneh,
lucu tapi nyata, karena aku harus bertanya berkali-kali baru ketemu di tempat
pendaftaran, herannya lagi tempat pendaftarannya bukan di kantor tapi dirumah
penduduk yang gangnya sangat sempit. Kemudian aku nekat masuk ke gang kecil
rumahnya bapak Sa’i dan aku bisa ketemu tempat pendaftarannya dan bersykurnya aku diterima dengan nomor urut 7 dari calon siswa yang mendaftar,
setelah Suroto dari Malo. Maklum sekolah
swasta baru buka dan tempatnyapun di Kalitidu
pinggiran kota Bojonegoro.
Dua minggu setelah pendaftaran aku harus mulai sekolah,
berdasarkan pengarahan bapak Kepala Sekolah,
bahwa kegiatan belajar mengajar
dimulai hari senin depan tanggal 15 Juni 1980 jam 1.00 siang dan pulangnya jam 5.30 sore. Mengapa
masuk sekolah sore alasanya kalau pagi gedungnya di pakai SDN I Kalitidu, dan
staf pengajarnya semua PNS beliau paginya mengajar di sekolah masing-masing jadi
SMA PGRI masuk siang. Sebelum masuk sekolah pikiranku agak sedih karena rumahku
sangat jauh, aku membutuhkan waktu tiga jam perjalanan dengan sepeda pancal
untuk sampai kesekolah, berangkatnya tidak jadi masalah aku jam 10 pagi sudah
bisa berangkat. Tetapi yang aku pikirkan pulangnya, kalau jam 5.30 dari sekolah
berarti ditambah 3 jam perjalanan sampai di rumah jam 8.30 malam. Sedangkan di
jalan sudah sangat sepi, apa lagi waktu itu belum ada penerangan jalan umum
atau PJU. Tetapi karena semangatku besar aku tegar untuk menjalaninya, pikir
aku bagaimana nanti sajalah, aku ingat nasehat ayahku jangan takut bayangan,
hidup ini harus dijalani dengan iklas bukan untuk dibayangkan nanti malah
takut. Kalau nekat nanti akan dapat brekat ( berhasil), tapi kalau kamu jereh
atau penakut akan muleh artinya pulang dengan tangan hampa, itulah petuah
ayahku yang sejak 1985 telah meninggalkan aku untuk selama-lamanya.
Bulan pertama aku sekolah merupakan pekerjaan yang berat,
bagaimana tidak! setiap jam 10 pagi aku harus bersiap-siap berangkat sekolah
dan jam 1 siang baru sampai di sekolah dan
belajar selama 4.30 jam, kemudian
aku pulang sampai rumah jam 8.30
malam, Setiap hari senin sampai sabtu.
Akibatnya aku mengikuti pelajaran agak kurang focus karena faktor badan terlalu capai. Alhamdulillah setelah minggu kedua rasa capai
sudah mulai berkurang, badanku sudah
mulai beradaptasi.
Dengan tidak terasa hari berganti hari menjadi minggu,
kemudian bergerak dari minggu ke minggu akhirnya menjadi bulan. Sudah satu
bulan perjuangan aku lewati, ini pekerjaan berat bagi anak seusiaku apalagi,
aku seorang diri tanpa ada kawan satupun dari kampung tempat aku tinggal.
Terasa kesepian sepanjang jalan tidak
ada teman berbicara, sehingga penjalanan menjadi jauh dan melelahkan. Diam-diam
ayahku memperhatikan aku, sehingga
beliau menawarkan aku bertempat tinggal di Malo rumak pak de, rumah masnya
ayahku. Tawaran ayahku aku sambut dengan senanghati dan aku langsung setuju.
Bulan kedua aku sudah mulai tinggal di Malo, lumayan
lebih dekat dibandingkan dari kampong saya, Malo dengan sekolahan jaraknya
sekitar 10 km, jadi cukup 30 menit perjalanan sudah sampai ke sekolah. Apalagi
dari Malo banyak teman, ada Suroto, Ada Sulastri, Fatimah, Wiwin dan masih
banyak lagi jadi kita senang dan semangat. Walaupun sebenarnya dari Malo
beresiko karena melewati bengawan solo, yang menakutkan, bagaimana tidak
menakutkan jaman itu belum ada jembatan antara Kalitidu dan Malo, yang ada satu-satunya kita naik tembo, prahu
kecil dari kayu, bagi saya sangat mengerikan dan menakutkan, tapi apa boleh
buat tidak ada pilihan lain kecuali naik tembo. Apa lagi jika musim hujan dan
pasti banjir besar, jantung ini selalu berdebar, apalagi saya tidak bisa berenang
bagaimana jika tembo yang saya naik kena ombak lalu jatuh di bengawan aku bisa
jadi santapan buaya disana hehehe. Karena itu juga bagian dari sebuah
perjuangan maka sudah aku dijalani saja, apalagi aku ingat nasehat ayahku jika kamu nekat akan dapat
brekat, jika kamu penakut akan gagal. Untungnya para bapak guru dan ibu guru
sangat baik dan bijaksanan, sehingga semua pelajaran menyenangkan.
Pelajaran di bangku SMA tidak jauh berbeda saat di SMP
dulu, pelajaran agama, bahasa indonesia, bahasa inggris, sejarah, PMP, ilmu
sosial dan yang paling tidak saya senangi adalah pelajaran matematika, apa lagi
gurunya galak.Tapi saya beruntung banyak punya teman sehingga jika ada PR
matematika dapat kita kerjakan kelompok sehingga pelajaran yang sesulit apapun
bisa kita selesaikan dengan baik, aku mempunyai kelompok belajar yang kompak
saling bekerjasama dan membantu satu dengan yang lain. Maka itulah indah dan
enaknya kita punya banyak teman, bisa saling membantu, melengkapi kekurangan
kita. Namun selama enam bulan aku di Malo ikut pak de ku, merasa tidak enak,
sungkan dan tidak nyaman, Pak De saudaraku sedangkan istrinya saudara bawaan, sehingga aku jadi malu kalau
lama-lama ikut beliau. Maka aku harus segera pindah dari Malo, dari rumah pak
De ku.
Setelah semesteran aku pindah ke Kalitidu, ikut pak
H,Sapran, awalnya aku tidak kenal dengan beliau, aku mulai kenal beliau pada
hari jumat, pada waktu itu aku solat jumat di belakangnya, setelah jumat usai
aku memberanikan diri untuk kos di rumahnya. Dengan senanghati permohonan saya
dikabulkan, tidak apa kalau kamu mau tinggal di rumahku nanti aku akan
sampaikan kepada kelurga tutur bapak H.Sapran. Karena aku
aku diterima tinggal disana minggunya, aku pindahan dari Malo pindah ke
Kalitidu.Beliau adalah usaha pemotongan hewan kambing, keluarga merasa senang
aku tinggal dirumahnya , kerana aku selalu membantu pekerjaan rumahnya , mulai
memotong, membersihkan kotorannya kambing sampai mengantarkan ke pasar. Dengan
aku tinggal di Kalitidu jarak sekolah dengan tempat tinggalku sangat dekat,
bahkan bisa berjalan kaki untuk pergi ke sekolah. Dan yang lebih penting lagi
aku dapat belajar lebih maksimal dan
konsentrasi. Dengan berjalannya waktu dari hari kehari nilai pelajaranku makin bagus dan maksimal.
Apalagi semester ini adalah untuk persiapan kenaikan kelas aku harus lebih giat
lagi belajarnya, sehingga bisa naik kelas.
Dengan tidak terasa aku sudah enam bulan tinggal di rumah
Kalitidu, aku semakin banyak teman, apa lagi rumahnya dekat masjid jami’
sehingga membuat aku tambah krasan. Ujian kenaikan kelas telah tiba, aku dapat
mengerjakan soal-soal ujian dengan mudah sehingga aku dapat nilai bagus dan
naik kelas dua. Alangkah senangnya hati ini aku sudah naik kelas dua sekarang.
Rasa senang juga dirasakan oleh ayah dan ibuku di kampong, beliau berdua senang
ketika aku pulang dan aku kabari aku naik kelas. Kedua orang tuaku adalah orang
yang paling sayang dan bijaksana yang aku temua di dunia ini, orangnya sayang ,
sering nasehat dan perhatian. Ketika Kenaikan kelas dan pembagian jurusan,
karena muritnya sedikit sehingga semua dimasukkan jurusan IPS. Kenapa
tidak ada jurusan IPA? karena sekolah
baru, muridnya saja hanya 35 anak, ya tidak mungkin kalau di bagi dua jurusan,
lagi pula belum punya sarana laboratorium segala. Pikir saya walaupun ada
jurusan IPA pun aku bisa dipastikan jatuh ke IPS lha matematikaku jeblok
hehehe. Setelah enam bulan aku bertempat tinggal di H.Sapran, rasanya aku tidak
krasan lagi, sebenarnya enak keluarganya ramah, tapi aku juga menjaga harga diri,
apa kata orang, bisa-bisa akau diberi stempel pembantu, maka aku ingin sekolah
sambil bekerja, apalagi ayahku saat itu sakit-sakitan karena faktor usia dan
membutuhkn biaya.
Pada suatu sore ada orang yang menawari aku untuk bekerja
di bank kosipa kantornya tidak jauh dari sekolahanku. Apa lagi disana ada teman
yang sudah bekerja sambil sekolah SMP PGRI jadi pas ada temannya, dia namanya
Nurhadi. Kemudian aku pulang memberitahukan ke ayahku, bahwa aku akan bekerja,
di kosipa tetapi ada uang jaminan sebesar Rp.25.000,- ayahku setuju, dan beliau
menjual sapi waktu itu laku Rp.50.000.Jadi mulai kelas dua saya mulai masuk
bekerja di kosipa, pagi bekerja mencari nasabah dan mengambil angsuran nasabah
lainnya sedangkan siangnya sekolah. Bekerja keluar pasar-masuk pasar yang lain,
keluar kampung dan masuk ke kampung lainnya tapi menyenangkan menambah
pengalaman. Berngkat jam 7 pagi pulang jam 12.00 kemudian jam satu berangkat
sekolah. Pesan ayahku walaupun kerja sekolah tetap dinomor satukan.
Alhamdulillah walaupun pagi berkeja siang tetap sekolah. Dan mulai waktu itu
aku sudah tidak merepotkan lagi orang tua untuk membiayai sekolah, bahkan aku
setiap bulan bisa membelikan obat ayahku yang waktu itu mulai sakit-sakitan.
Bekerja sambil sekolah memang menyenangkan, karena kita
sekolah memegang uang, sementara teman kita tidak punya uang, jika tidak diberi
oleh orangtuanya. Beda dengan kita yang sudah bekerja, tapi bekerja juga ada
suka dan dukanya, apa lagi bekerja di kosipa, yang bekerjanya mencari nasabah
dilapangan capai memang pagi kerja siang sekolah tapi itulah pilihan hidupku.
Aku harus pandai berbicara dengan calon nasabah di waktu meminjamkan uang,
nasabah di survey dulu kekuatannya mengasur uang setiap harinya. Karena
biasanya yang terjadi penyakit klasik di perbankkan, mudah hutang sulit
membayar, itu tidak boleh terjadi pada diri saya. Karena jika aku berbuat salah
aku pasti dimarahi bahkan dipotong gaji atas kesalahan keuangan. Ada saat sedih
da nada waktu senang ketika waktu akhir bulan para karyawan merasa senang,
karena diakhir bulan selalu makan-makan yang mewah ukuran waktu itu, lauk ayam,
buah dan minum sprit, jadi istimewa dan beda dengan hari biasanya. Bahasanya
tutup buku disaat itu, dicek semua pengeluaran dan masukan dari semua
mantrinya, dan kemudian besuknya kita mendapat gajian, senang rasanya, hilang
rasa capai satu bulan.
Pada saat itulah para mantra bank di cek oleh kepala
mantrinya, dilihat antara promes dan buku angsuran yang ada di kantor. Nah
disitu akan kelihatan kekurangan kita dan juga kelebihan. Bisa melihat mantri
yang pandai dan teliti dan sebaliknya yang curang dan kurang teliti. Jika
promes lebih besar dari buku jurnal berarti promes dibuang, jika promes lebih
sedikit berarti uang dari nasabah pernah dipakai atau mereka memang salah
menyobek promes saksinya mantra harus membayar promes yang hilang hari itu
juga. Jika mantri yang teliti antara promes dan catatan pasti sama dan itu yang
benar. Setelah penutupan buku besuk harinya sudah cair atau sudah gajian.
Senang rasanya ketika habis gajian dan sedih ketika masuk kelas ketinggalan,
pasti disoraki teman. Adanya yang menghina ada yang teriak ada yang mengucapkan
kalimat yang tidak mengenakkan. Tapi itulah resiko kita sekolah sambil bekerja.
Ketika menagih ke nasabah yang ada masalah atau banyak
nasabah yang meminjam uang kita lambat untuk pulang ke kantor, apa lagi
resortnya jauh dari kantor. Saya pernah mendapat resort Cengungklung.
Cengungklung itu dari Kalitidu sekitar 20 KM, dengan bersepeda pancal lumayan
jauh belum masuk-masuknya kampong jadi
sangat jauh. Kadang kalau sudah begitu saya di lapangan sudah tidak konsentrasi
lagi, karena pikiran saya sudah di sekolah, sudah bersama dengan teman-teman
padahal saya masih di lapangan. Sebenarnya sangat malu jika telat masuk ke
ruang kelas tapi apa boleh buat. Bekerja penting, sekolah lebih penting. Ya
kalau ketinggalan masuk kelas sekali-kali tapi yang saya alami hampir setiap
hari saya telat masuk kelas. Lebih seru lagi saat aku sudah kelas tiga hampir
mengukuti ujian akhir nasional (UAN). Dan yang lebih mendebarkan lagi aku
sekolah di swasta tetapi ujiannya ikut SMA 1 Bojonegoro. Sehingga bisa
dipastikan semua murid gelisah dan kuatir jika tidak lulus. Walaupun pihak guru
SMA PGRI Kalitidu sudah berjuang keras, berbagai latihan soal dilakukan (try
out).
Perjuangan berat saat menjelang UAN, terutama mata
pelajaran yang sulit contoh matematika, akutansi dan bahsa inggris yang cukup
sulit soal-soalnya. Tiada hari semua guru sibuk memberikan latihan, memberikan
strategi dalam mengerjakan tugas. Karena ada soal yang memilih dan esai.
Apalagi soal hitung-hitungan, para siswa menumpuh cara dengan caranya
sendiri-sendiri baik belajar diluar kelas maupun dalam kelas. Pokoknya semua
ingin lulus dengan cara apaupun. Jika tidak lulus kita pasti malu, malu sesama
teman, malu sama keluarga. Maka saya bersama temanku nunuk pergi ke pak Yai
yang terkenal di daerah celangap, bukan ke dukun, bukan musrik tapi sekedar
minta doanya, walaupun disana dibawai-garam untuk syararat mengikuti ujian di
SMA Bojonegoro.
Usaha apapun bakal ditempuh asalkan halal dan tidak melanggar aturan, memang aneh tapi
nyata, itulah saat seseorang galau, bingung, kuatir sehingga terkadang yang
tidak rasionalpun dilakukan. Coba bayangkan di saat ramai aku harus membuang
garam di pintu pagar masuk gedung dimana aku akan mengikuti ujian akhir
nasional atau UAN yang waktu itu kami
dari SMA PGRI Kalaitidu di tempatkan di gedung SMA Muhammaddiyah Bojonegoro
jalan Setia Budi. Nekad dan memberanikan sangat dibutuhkan saat sedang kepepet,
itulah yang aku lakukan perintah pak yai walaupun berat aku lakukan. Tujuan usaha yang keras dan
ekstream ini tidak lain hanya satu ingin
lulus. Pada hari ujian pertama aku berangkat jam 4 pagi dari Kalitidu supaya
aku bisa melaksanakan tugasku itu. Aku dengan pelan dan melihat kanan dan kiri
keadaan masih sepi, jam tanganku menunjukkan pukul 5 pagi jadi masih gelap dan
remang-remang. Maka dengan membaca basmallah garam yang bungkusan Koran aku
taburkan dari arah kanan pintu hingga kiri pintu allhamdulillah tidak ada orang
yang curiga dan menyapa. Andai kata ada orang yang tanya akupun bingung
menjawabnya, karena pekerjaan yang tidak masuk akal. Setelah pesan menaburkan
garam telah usai hati merasa lega, tambah mantap dan yakin nanti aku dapat
dengan menjawab soal ujiannya. Aku tidak
tahu temanku nunuk kapan dan jam berapa dia menaburkan garamnya, semoga dia
juga dapat melakukannya.
Ujian akhir nasional hari itu dimulai, sebelum ujian di
mulai semua siswa tegang dan serius, apa lagi jam 7.30 sudah berdatangan panitia ujian. Dan akupun tidak kenal mereka,
kelihatannya yang menjadi panitia dari sekolah lain, bukan dari sekolahanku.
Mungkin ditukar antar sekolah gabungannya. Suasanya lebih tegang lagi ketika
panitia membawa map cokelat berisi soal ujian. Panitia minta agar semua siswa
meletakkan pensil dan buku catatan apapun, semua ujian close book artinya siswa
dilarang membuka buku catatan apapun. Dan dilarang kerjasama atau contekan
dengan teman sebelah serta harus mentaati peraturan tata tertib lainnya yang berkaitan dengan
ujian. Jika saudara melanggar sanksinya dikeluarkan dari ruangan ini, dan saudara dinyatakan
tidak lulus ujian.
Setelah beberapa
pengumuman dibacakan, ujian dimulai. Mata pelajaran pertama adalah agama,
menurut saya pelajaran yang mudah, pertanyaannya yang tidak jauh dari buku
pelajaran, sudah sering diterangkan oleh pak guru, mengenai rukun islam, rukun
iman, doa solat sunnah, tentang rukun haji, melengakapi surat-surat pendek.
Saya termasuk cepat mengerjakannya, dari waktu yang disediakan panitia dari
soal 50 yang terdiri 20 soal pilihan ganda, 10 soal sebab akibat 20 soal pertanyaan esay.
Kemudian dilanjutkan jam kedua mata pelajaran PMP dan jam ketiga Bahasa
Indonesia, semua saya kerjakan dengan mudah.
Besuknya baru dilanjutkan hari kedua ujian, terdiri dari
mata pelajran bahasa inggris, matematika dan biologi. Menurut saya pelajaran
yang cukup sulit dan menguras pikiran, tetapi aku percaya diri saja, aku
kerjakan pelajaran yang mudah dulu, sedangkan yang sulit aku pakai sistem bejo-beji
menghitung jari, dengan cara saya sendiri, semua saya pasrahkan kepada Tuhan
Yang Maha Esa karena aku sudah belajar maksimal, jadi tugasku sekarang tinggal berdoa. Hari kedua aku lalui
dengan lancar terlepas banyak kesulitan untuk menjawabnya.
Hati ini lega rasanya, UAN telah usai, namun justru hati
berdebar-debar karena menunggu hari, yang sangat menentukan kelulusan. Akhirnya
hari yang ditunggu-tunggu datang
juga, setelah dua minggu aku menunggu.
Waktu itu semua siswa di kumpulkan di
ruangan kelas SMA PGRI Kalitidu, hari itu sesana tegang, semua guru hadir, tapi ada guru kelihatannya
sedih, karena beliaua tahu ada siswanya yang tidak lulus. Suasana bertambah
tegang ketika kepala sekolah memasuki ruang kelas namanya bapak Haryono,BA.
Beliau masih muda besar tinggi dan tampan, beliau membawa amplop
coklat sebanyak jumlah siswa. Sebelum membagikan amplop beliau berpesan semua
dewan guru sudah berusaha dengan
maksimal baik cara mengajar, memberi pelajaran tambahan. Dan saudara
juga sudah maksimal untuk berusaha menjawab ujian dengan sungguh-sungguh maka
jika masih ada yang belum lulus berarti itu kehendak yang di atas kalian tidak
boleh sedih dan putusasa, kalian harus sabar menambah waktu satu tahun duduk di SMA ini. Kami akan senang
mengajar saudara hingga lulus tahun depan. Dengan muka agak sedih saya sudah
dapat membaca pasti ada yang tidak lulus dan gagal. Kemudian satu persatu di
panggil dan di beri amplop, hanya pesan beliau tolong amplop jangan di buka
dalam kelas sebaiknya di buka sampai rumah masing-masing.
Panggilan dimulai dari nomor kecil, satu persatu
dipanggil, setelah amplop dibuka dalam kelas suara ricuh, pecah suara gembira
campur tangis. Padahal oleh kepala sekolah untuk tidak di buka dalam kelas
namun anak-anak juga tidak sabar lagi untuk melihat nasipnya, lulus atau tidak,
bayangkan berjuang 3 tahun ditentukan ujian hanya dua hari. Hatono anak
kelihatan pinter gagal, surat memang kurang pinter gagal juga, mustakim teman
akrapku gagal juga.giliran aku ambil dengan berdoa bismillah ampop aku buka dengan
tangan gemeteran dan kuatir dan hasilnya “LULUS” saya sangat gembira dan
bahagia” aku lulus” rasa terimaksihku tak henti-hentinya wajar karena sekolah
swasta gabung dengan sekolah negeri aku bisa lulus. Dari 36 anak hanya 28 anak
yang lulus sisanya harus mengulang tahun depan.
Itulah cerita tentang masa sekolahku di SMA PGRI Kalitidu
tahun 1983.
Cerpen karangan :
Sarpan
Contact
person 081216888135
Terinspirasi
Cerpen Umar Yoga Pratama
sarpan lahir di Bojonegoro Jawa Timur, 10-06-1960. Hoby membaca buku dan joging. Pendidikan SMP dan SMA di Swasta di Bojonegoro, perguruan tinggi di negeri (STIA LAN RI Jakarta tahun 1995).
sarpan lahir di Bojonegoro Jawa Timur, 10-06-1960. Hoby membaca buku dan joging. Pendidikan SMP dan SMA di Swasta di Bojonegoro, perguruan tinggi di negeri (STIA LAN RI Jakarta tahun 1995).