1. BURUNG BANGAU yang
baik hati
oleh: sarpan miftahuk
huda
Pada jaman dulu di sebuah desa tepi hutan hidup seorang
pemuda bernama Panji. Pekerjaannya sehari-hari adalah mengambil daun jati dari
hutan di jual ke kota. Uang hasil menjual daun untuk membeli kebutuhan sehari
hari. Pekerjaan ini terus dilakukan setiap hari, alangkah kagetnya ketika berangkat ke hutan melihat seekor
burung bangau yang menggelepar di tanah. Tentu saja Panji berhenti dan
mendekati dia, ternyata kaki bangau terlilit oleh bekas lem jebakan pak tani. Kemudian Panji
memegang dan membersihkan lem di kaki
burung bangau dengan penuh iba.
Setelah kakinya dibersihkan dia
kelihatan lemas tak berdaya karena sepanjang malam meronta-ronta, tidak bisa melepaskan diri
dari lem jebakan pak tani itu. Untung ada orang baik hati untuk menolongnya. Si
bangau menatap wajah Panji dengan
linangan air mata, kemudian mencoba berdiri walaupun sempoyongan mau
jatuh, dia mau pamitan dan mengucapkan
terima kasih pada Panji. Sebelum dia terbang tinggi terlebih dulu terbang
mengelilingi diatas kepala Panji. Kemudian mengepakkan sayapnya terbang ke angkasa tinggi dan lepas dari pandangan.
Setelah
itu Panji melanjutkan perjalanan ke hutan sebagaimana setiap hari dia
dilakukan, berangkat masih petang kemudian melanjutkan perjalanan ke kota
dengan berjalan kaki. Hari-hari dilakukan dengan senang dan gembira, pada suatu
hari Panji sedang tidak enak badan, kepalanya terasa berat badannya panas dan
menggil dia sudah tiga hari tidak bisa bangun padahal persiapan makannan sudah
hampir habis. Dia berdoa kepada tuhan agar ada orang baik hati untuk
menolongnya. Sambil membayangkan seandainya
ibunya masih hidup dia pasti ada yang menemani, tetapi semua sudah berlalu
ibunya sudah meninggal lima tahun silam sehingga dia hidup sendiri sebatang
kara.
Malam itu hujan tak henti-hentinya
membuat Panji merasa sedih dan merapi
nasip seorang diri. Dalam keheningan itu ada ketukan pintu dari luar ada
banyangan yang akan masuk dalam rumah.”
Masuk saja pintu tidak dikunci” kata Panji. Alangkah kagetnya dia melihat
gadis cantik masuk rumah dalam keadaan
pakaian basah kuyub, sehingga kulit putih mulus yang terbalut pakainnya sangat
jelas dan indah. “ Kamu siapa dan dari mana? “ Saya Dewi rumahku jauh , aku
tersesat bolehkah aku numpang disini?. Boleh tapi aku ini orang miskin di sini
tidak ada kasur dan makan . “ tidak apa-apa aku sudah terimakasih di perbolehkan
nginap disini”.
Pagi betul Dewi sudah bangun, merapikan
kamar dan memasak,” silahkan makanannya sudah saya siapkan!”. Alangkah
senangnya hati Panji pagi –pagi sudah ada yang menyediakan
masakan.” Terimakasih yaa, maaf nama kamu siapa? “ nama saya Dewi mas.” Lama berbincang yang akirnya Panji dan Dewi
menjadi suami istri. Panji tetap menekuni pekerjaannya mencari daun jati, sedangkan
istrinya bekerja menenun kain. Tidak
disangka hasil tenunan Dewi sangat bagus, maka Dewi minta agar hasil tenunannya di jual ke kota. Kemudian bergegas menjual
tenunan di kota, dan dibeli seorang saudagar dengan harga yang sangat mahal.
Dan saudagar yang lainpun tertarik dan memesannya dengan harga yang lebih mahal
lagi.
Sehingga beberapa bulan Panji dan Dewi
sudah dapat mengumpulkan uang yang banayak dan melimpah. Panji sekarang sudah
tidak kehutan mencari daun jati karena penghasilannya sudah lebih dari cukup.
Pada suatu hari Panji penasaran dengan hasil kain tenunan istrinya, yang bagus
dan istimewa, maka dia berusaha untuk mengintip dari belakang rumah. Alangkah
kagetnya bahwa yang dilihat adalah burung bangau yang sedang mengambil
bulu-bulunya kemudian di tenun. Maka dia tidak sabar mengendap dan mendekati serta memeluknya.
Dia berkata” apa yang terjadi istriku
sambil menangis”. Kemudian istrinya bercerita mulai dari awal “ Aku adalah
burung bangau yang pernah mas tolong saat aku kejebak lem di pinggir hutang
sebulan yang lalu. Aku ingin membalas budi kepada orang yang telah tulus
menolong “. Panji hanya tertegun diam seribu bahasa, mulutnya seperti terkunci
tidak bisa bicara. Hanya bungkam dan menangis menggelengkan kepala setelah
mendengarkan cerita istrinya tadi. Pantas setiap hari istrinya tambah kurus dan
mengecil karena bulunya diambil untuk di tenun.
Isterinya semenjak itu sudah tidak bisa
berubah menjadi manusia lagi dia sekarang sudah berubah dengan bentuk aslinya
yaitu burung bangau yang kurus dan bulunya tinggal sedikit karena setiap hari
dijadikan kain tenun. Maka dia ingin pamitan, ” Mas jaga dirimu baik-baik , aku ingin pulang ke
rumah karena jika aku tidak segara
datang pasti ayah ibuku akan sedih. “ Terimakasih atas kebaikan kamu “ .
Kemudian keluar rumah dan mengepakkan sayapnya
terbang tinggi ke atas angkasa sehingga hilang dari pemandangan Panji.
Cerita yang dapat diambil hikmahnya
dari cerita ini adalah:
Orang yang suka menolong kepada sesama makluk alloh akan mendapat
balasan yang pernah mereka lakukan.
Sumber bacaan dari Internet yang sudah
di olah dan dimodivikasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar