Sabtu, 30 Mei 2020

1. BURUNG BANGAU yang baik hati

oleh: sarpan miftahuk huda

Pada jaman dulu  di sebuah desa tepi hutan hidup seorang pemuda bernama Panji. Pekerjaannya sehari-hari adalah mengambil daun jati dari hutan di jual ke kota. Uang hasil menjual daun untuk membeli kebutuhan sehari hari. Pekerjaan ini terus dilakukan setiap hari, alangkah kagetnya  ketika berangkat ke hutan melihat seekor burung bangau yang menggelepar di tanah. Tentu saja Panji berhenti dan mendekati dia, ternyata kaki bangau terlilit oleh  bekas lem jebakan pak tani. Kemudian Panji memegang dan  membersihkan lem di kaki burung bangau  dengan penuh iba.

Setelah kakinya dibersihkan dia kelihatan lemas tak berdaya karena sepanjang malam  meronta-ronta, tidak bisa melepaskan diri dari lem jebakan pak tani itu. Untung ada orang baik hati untuk menolongnya. Si bangau  menatap wajah Panji dengan linangan air mata, kemudian mencoba berdiri walaupun sempoyongan mau jatuh,  dia mau pamitan dan mengucapkan terima kasih pada Panji. Sebelum dia terbang tinggi terlebih dulu terbang mengelilingi diatas kepala Panji. Kemudian mengepakkan sayapnya terbang  ke angkasa tinggi dan lepas dari pandangan.

Setelah itu Panji melanjutkan perjalanan ke hutan sebagaimana setiap hari dia dilakukan, berangkat masih petang kemudian melanjutkan perjalanan ke kota dengan berjalan kaki. Hari-hari dilakukan dengan senang dan gembira, pada suatu hari Panji sedang tidak enak badan, kepalanya terasa berat badannya panas dan menggil dia sudah tiga hari tidak bisa bangun padahal persiapan makannan sudah hampir habis. Dia berdoa kepada tuhan agar ada orang baik hati untuk menolongnya. Sambil membayangkan  seandainya ibunya masih hidup dia pasti ada yang menemani, tetapi semua sudah berlalu ibunya sudah meninggal lima tahun silam sehingga dia hidup sendiri sebatang kara.

Malam itu hujan tak henti-hentinya membuat Panji merasa sedih dan  merapi nasip seorang diri. Dalam keheningan itu ada ketukan pintu dari luar ada banyangan yang akan  masuk dalam rumah.” Masuk saja pintu tidak dikunci” kata Panji. Alangkah kagetnya dia melihat gadis  cantik masuk rumah dalam keadaan pakaian basah kuyub, sehingga kulit putih mulus yang terbalut pakainnya sangat jelas dan indah. “ Kamu siapa dan dari mana? “ Saya Dewi rumahku jauh , aku tersesat bolehkah aku numpang disini?. Boleh tapi aku ini orang miskin di sini tidak ada kasur dan makan . “ tidak apa-apa aku sudah terimakasih di perbolehkan nginap disini”.

Pagi betul Dewi sudah bangun, merapikan kamar dan memasak,” silahkan makanannya sudah saya siapkan!”. Alangkah senangnya  hati Panji  pagi –pagi sudah ada yang menyediakan masakan.” Terimakasih yaa, maaf nama kamu siapa? “ nama saya Dewi mas.”  Lama berbincang yang akirnya Panji dan Dewi menjadi suami istri. Panji tetap menekuni pekerjaannya mencari daun jati, sedangkan istrinya  bekerja menenun kain. Tidak disangka hasil tenunan Dewi sangat bagus,  maka Dewi minta agar hasil tenunannya  di jual ke kota. Kemudian bergegas menjual tenunan di kota, dan dibeli seorang saudagar dengan harga yang sangat mahal. Dan saudagar yang lainpun tertarik dan memesannya dengan harga yang lebih mahal lagi.

Sehingga beberapa bulan Panji dan Dewi sudah dapat mengumpulkan uang yang banayak dan melimpah. Panji sekarang sudah tidak kehutan mencari daun jati karena penghasilannya sudah lebih dari cukup. Pada suatu hari Panji penasaran dengan hasil kain tenunan istrinya, yang bagus dan istimewa, maka dia berusaha untuk mengintip dari belakang rumah. Alangkah kagetnya bahwa yang dilihat adalah burung bangau yang sedang mengambil bulu-bulunya kemudian di tenun. Maka dia tidak sabar  mengendap dan mendekati serta memeluknya.

Dia berkata” apa yang terjadi istriku sambil menangis”. Kemudian istrinya bercerita mulai dari awal “ Aku adalah burung bangau yang pernah mas tolong saat aku kejebak lem di pinggir hutang sebulan yang lalu. Aku ingin membalas budi kepada orang yang telah tulus menolong “. Panji hanya tertegun diam seribu bahasa, mulutnya seperti terkunci tidak bisa bicara. Hanya bungkam dan menangis menggelengkan kepala setelah mendengarkan cerita istrinya tadi. Pantas setiap hari istrinya tambah kurus dan mengecil karena bulunya diambil untuk di tenun.

Isterinya semenjak itu sudah tidak bisa berubah menjadi manusia lagi dia sekarang sudah berubah dengan bentuk aslinya yaitu burung bangau yang kurus dan bulunya tinggal sedikit karena setiap hari dijadikan kain tenun. Maka dia ingin pamitan, ” Mas  jaga dirimu baik-baik , aku ingin pulang ke rumah karena   jika aku tidak segara datang pasti ayah ibuku akan sedih. “ Terimakasih atas kebaikan kamu “ . Kemudian keluar rumah dan mengepakkan sayapnya  terbang tinggi ke atas angkasa sehingga hilang dari pemandangan Panji.

Cerita yang dapat diambil hikmahnya dari cerita ini adalah:

Orang yang suka menolong  kepada sesama makluk alloh akan mendapat balasan yang pernah mereka lakukan.

Sumber bacaan dari Internet yang sudah di olah dan dimodivikasi.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar